Pengalaman Interview Penerima ADS (Australian Development Scholarship)
Salwa adalah alumni Universitas Negeri Malang (dulu IKIP Negeri Malang), jurusan Pendidikan Bahasa Inggris. Wanita berusia 30 tahunan itu bekerja sebagai dosen tetap di Universitas Kanjuruhan Malang sebagai tenaga pengajar Bahasa Inggris, selain itu beliau juga mengajar di Universitas Islam Negri Malang serta pengajar di IDP Malang. Sebelum menjadi dosen, beliau pernah bekerja sebagai tentor di salah satu lembaga bimbingan belajar. Wanita penerima beasiswa Australia yaitu ADS (Australia Development Scholarship) ini akan bercerita tentang pengalaman interview nya. Silahkan menyimak.
—
Disini saya akan berbagi kepada teman-teman tentang pengalaman saatinterview, karena memang penentu keberhasilan di terima atau tidaknya beasiswa (khususnya ADS) salah satunya adalah interview. Memang saat interview, perasaan nervous itu ada. Yang saya lakukan saat tes wawancara waktu itu, sepuluh menit sebelum dipanggil, saya sempatkan menelpon Ibu dan ibu mertua untuk memohon doa. Saya sangat yakin, kekuatan doa seorang ibu sangatlah luar biasa.
Karena sepuluh menit sebelum dipanggil bukan saatnya membuka buku tentang tes atau apapun perihal interview. Detik-detik itu terasa betul ujian keimanan, tentang takdir yang telah Allah tentukan pada kita. Pasrahkanlah semua keputusan pada-Nya, diterima ataupun tidak adalah hal terbaik yang Allah berikan. Yah, kekuatan ikhlas, itu akan membuat diri kita tenang dan mengalir. Ambisi yang meledak-ledak melampaui keikhlasan justru akan menampakkan diri sebagai orang yang sombong, namun keikhlasan yang begitu lembut melampaui ambisi, akan memancarkan sinar positif sebagai orang yang elegan menjawab semua pertanyaan.
Tetap santai dan sopan, tunjukkan bahwa kita percaya diri saat menjawab pertanyaan. Karena pewawancara akan merasakan “energi” motivasi yang positif, jika kita menjawab pertanyaan dengan antusias.
Dalam menjawab pertanyaan, usahakan memberi jawaban yang tepat dan tidak mengada-ada. Misalnya ada pertanyaan yang tidak kita ketahui jawabannya, lebih baik katakan dengan jujur, bahwa kita kurang mengerti. Mereka akan lebih menghargai kejujuran daripada jawaban asal-asalan. Bisa dipastikan, kita akan semakin terjebak jika asal menjawab. Hal ini akan menurunkan kredit poin dalam penilaian.
Akan lebih baik lagi jika memiliki jawaban yang menarik bagi pewawancara, seperti informasi-informasi terbaru yang kita miliki. Pasti akan bisa menjawab dengan lebih percaya diri, karena telah menguasai materi. Tentu ini akan menambah nilai.
Satu hal lagi yang penting, sebelum wawancara pelajari berkas aplikasi yang kita tulis, karena pewawancara ingin mengetahui lebih jauh jawaban-jawaban yang telah ditulis dalam aplikasi. Akan lucu tentunya, jika kita lupa pada apa yang telah kita tulis sendiri.
Berbicara tentang kepercayaan diri saat wawancara, buktikan bahwa kita adalah kandidat yang layak terpilih. Tunjukkan kompetensi, prestasi dan pemikiran-pemikiran yang kita miliki. Memang sangat dianjurkan untuk rendah hati, bahkan itulah yang membuat kita jadi pribadi yang memukau dan disukai. Namun dalam konteks ini, bukan tempatnya untuk menyembunyikan prestasi.
Makna kalimat ini, dimaksudkan agar kita menunjukkan kepada pewawancara, bahwa kita memiliki kelebihan-kelebihan yang bisa diandalkan dan layak sebagai penerima beasiswa. Misalnya jika ditanya “Apa prestasi-prestasi Anda yang paling dibanggakan?” Ceritakan saja apa adanya, pencapaian-pencapaian terbesar dalam hidup, karya-karya yang pernah ditulis atau apapun yang membuat pewawancara semakin yakin. Yakinkan, bahwa mereka tak akan salah pilih. Ceritakan dengan nada yang baik tanpa terkesan menyombongkan diri dan melebih-lebihkan.
Terkadang beberapa pertanyaan yang muncul adalah pertanyaan spontan yang membutuhkan imajinasi. Saya masih ingat, salah satu pertanyaan waktu itu. “perubahan apa yang akan Anda akan lakukan, jika lima tahun mendatang anda terpilih sebagai rektor?” Ini pertanyaan dadakan yang membutuhkan daya nalar sekaligus imajinasi. Jelas terlihat, pewawancara ingin mengetahui visi dan jiwa kepemimpinan. Mereka ingin tahu, apakah kita tipe manusia futuristic yang mempunyai visi. Selain itu, tak jarang pertanyaan-pertanyaan sederhana juga muncul seperti “Apa buku favorit Anda?” dalam menjawab pertanyaan ini, usahakan tidak hanya memberitahu judul dan nama pengarang atau sekilas isi buku itu saja. Namun, yang diinginkan pewawancara adalah jawaban yang lebih dalam. Alangkah lebih baik jika dijelaskan, mengapa buku itu berarti bagi diri kita. Apakah yang berubah dari hidup atau pikiran kita setelah membaca buku itu.
Terakhir, tunjukkan jawaban-jawaban retoris, bahwa kita memiliki semangat, ini penting untuk menunjukkan kuatnya keinginan yang kita miliki. Diwaktu itu pewawancara menanyakan pada diri saya, “buktikan bahwa Anda mempunyai motivasi kuat untuk mendapat beasiswa ini”. Jawaban saya pada pertanyaan akhir itu adalah, “Saat ini, detik ini, saya berada di sini, berhadapan dengan Anda, setelah melewati berbagai test prasyarat beasiswa. Ini adalah bukti kuat bahwa saya mempunyai motivasi besar, bahwa saya sangat menginginkan”. Selamat memenangkan beasiswa!
Comments
Post a Comment